IPB Badge

Salah dan Benar dalam diri

Setiap orang pada dasarnya tahu salah dan benar. Setiap orang tahu, benar harus diikuti, salah harus dijauhi atau jangan dilakukan. Setiap orang, bila benar akan berani, bila salah akan takut. Kesadaran tentang salah-benar dalam diri, bila dihayati dan dipegang teguh sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mengatur dan membereskan kehidupan ini. Seperti rizki, salah dan benar tidak akan tertukar dalam kehidupan. Tapi, mengapa banyak orang yang takut padahal dia benar, dan banyak orang berani bahkan ngotot padahal dia salah?Apakah yang satu penakut, dan yang lain nekad? Bukan.

Persoalannya, bukan penakut padahal benar atau penekad padahal salah, tapi tidak menyadari posisi dirinya benar atau salah. Persoalannya adalah kesadaran. Ketika orang yang benar tapi takut benar-benar disadarkan bahwa ia benar, ia akan berubah seketika menjadi pemberani. Sebaliknya, orang yang salah, bila benar-benar disadarkan tentang kesalahannya, ia akan takut, hilang keberaniannya dan menyesali diri. Disini diperlukan orang ketiga yang bisa menyadarkan siapa saja bahwa ia benar atau salah. Orang ketiga ini bisa siapa saja, syaratnya hanya satu: memiliki kesadaran kebenaran yang lebih tinggi di atas orang kebanyakan. Dia ini semacam hakim atau pemutus, tapi tidak ada kaitannya dengan posisi dan jabatan apapun. Syaratnya, hanya kesadarannya lebih tinggi. Orang seperti itulah yang sangat kita perlukan saat ini, siapapun, dimanapun dan kapanpun. Dalam agama mereka adalah para nabi. Dalam kehidupan biasa adalah siapa saja yang hidupnya lurus, hatinya bersih, berfikirnya tajam dan jernih, penasehat yang tanpa pamrih. Ali Syari’ati menyebut mereka sebagai rausyan fikr (orang-orang yang tercerahkan).

Adakah orang-orang seperti di sekitar kita? Bila ada, ia harus didekati, dijaga, dipelihara dan diminta nasehat-nasehatnya. Bila perlu dijamin hidupnya. Orang seperti ini adalah para nabi yang tidak formal, utusan Tuhan yang tersembunyi. Apakah kita harus selalu tergantung pada orang-orang istimewa seperti itu? Tidak perlu. Tapi kita harus mau melakukan satu hal: membereskan diri kita masing-masing agar hidup benar, berkata benar, melangkah benar, berniat benar, bertujuan benar dan seterusnya dalam hal apapun. Jangan dibuka peluang dalam diri kita melakukan kesalahan apapun. Bila itu kita coba lakukan, kekuatan kebenaran itu akan muncul dalam diri, akan menguat dan kita lah yang akan menjadi obor-obor kebenaran. Kekuatan kebenaran kita akan menjadi radio aktif bagi orang lain. Semakin banyak obor semakin terang dunia ini, semakin lenyap kegelapan, semakin beres kehidupan! Bila masing-masing diri sudah menemukan hakikat kebenaran, kita tak akan pernah lagi menyalahkan orang! Karena dalam dirilah sumber semua masalah.

Kado Bagi Kehidupan

Kepuasan terbesar dalam hidup adalah berhasil melakukan sesuatu yang orang lain
kira  tak mampu melakukannya

Usia kita di dunia ini tak panjang. Orang jaman sekarang, tak banyak yang bisa hidup sampai seratus tahun. Kelak, orang akan mengenangkan kita setelah mati dengan prestasi-prestasi yang pernah kita capai. Atau bisa pula banyak orang justru akan mengenang keburukan perilaku kita semasa hidup di dunia ini. Semua itu tergantung dari apa yang kita perbuat, apa yang kita lakukan.

Tujuan hidup memang bukan untuk dikenangkan, bukan pula untuk menjadi seorang pahlawan. Tetapi, ketika kita melakukan sesuatu, sekecil apapun untuk kebaikan dunia ini, kebaikan alam, kebaikan sesama manusia, disitulah sejarah kepahlawanan muncul dengan sendirinya. Orang akan mencatat dalam ingatan, bahkan dalam buku-buku yang nantinya menjadi pembelajaran anak-anak cucu kita di sekolah-sekolah. Kepahlawanan akan datang secara otomatis ketika orang berbuat kebaikan yang langka, ketika orang lain tak mampu dan tak mampu mengerjakannya.

Kita, memang tak perlu terlalu berambisi mencari identitas kepahlawanan. Ia akan datang seiring dengan ketulusan sikap serta ketulusan perilaku manusia untuk rela berkorban kepada sesamanya. Naluri kemanusiaan yang akan menuntunnya. Memberikan yang terbaik dari yang ia punyai, entah berupa harta, tenaga maupun pikiran untuk sebuah kehidupan, ya kehidupan di dunia ini.

Seperti yang dilakukan oleh lelaki yang satu ini. Saya mengenalnya sekitar satu tahun lamanya. Riwayat hidupnya cukup unik. Setamat STM, ia bekerja sebagai tukang las, kemudian tukang cetak. Karena tak punya cukup uang untuk meneruskan kuliah, sementara semangat belajarnya tinggi, ia masuk ke Universitas Terbuka. Dengan ijasah S1 UT, nekat mengikuti program S2 di luar negeri. Empat kali gagal, baru kali kelima berhasil yang kemudian mengantarkannya belajar manajemen pendidikan di Inggris. Sepulang dari sana, bekerja menjadi karyawan sebuah instansi pendidikan, menjadi PNS pada sebuah Universitas. Karena punya cukup kapasitas secara keilmuan, kemudian diperbantukan untuk mengajar di program studi Bisnis Internasional. Sejak itu, nasib hidupnya mulai berubah. Ia juga suka menulis. Tiga buku pengembangan diri berhasil ditulisanya. Atas pengalaman tersebut, saya dan beberapa kawan dari Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Purwokerto mengundangnya untuk memotivasi anggota untuk lebih giat menulis lagi. Dari forum itulah saya mendapatkan banyak pelajaran darinya. Seperti pendapatnya tentang seorang penulis sukses. Menurutnya, penulis sukses adalah ketika “Hari ini menulis”.

Sementara saya juga terkesan dengan kata-katanya “Berikan sesuatu pada kehidupan, niscaya kehidupan akan mencukupimu”. Kata-kata itu berawal ketika ia sudah menulis banyak artikel di koran lokal sementara satu rupiahpun tak pernah dibayarkan. Ia menerima dengan ikhlas saja, walau sebenarnya tak etis sebuah perusahaan media tak membayarkan honor kepada penulis. Yang ada dalam pikirannya, hanya ilmu yang ia punyai, maka diapun berikan ilmunya kepada orang lain. Alhamdulillah, dengan ketulusan dan itikat baik memberikan sesuatu pada kehidupan,.

Diam-diam, saya salut terhadapnya. Dan, mulai berpikir tentang apa yang terbaik
yang bisa saya berikan bagi kehidupan ini.

Sydney – Suka cita menyambut kedatangan perahu layar Plastiki di Pelabuhan Sydney. Kapal unik yang dibuat dari 12.500 botol plastik ini sukses berlayar mengarungi Samudra Pasifik.

“Ini luar biasa. Senang rasanya bisa sampai ke Sydney,” kata David de Rothschild, putra bankir kaya asal Inggris yang menjadi sponsor Plastiki kepada AFP, Senin (26/7/2010).

Plastiki telah menempuh perjalanan 15.000 km atau sekitar 9.000 mil. Plastiki mengambil namanya dari ekspedisi rakit bersejarah dari Amerika Selatan ke Polinesia tahun 1947 yang dilakukan Thor Heyerdhal dari Norwegia. Ekspedisi itu bernama Kontiki.

Plastiki berlayar dengan awak enam orang. Perjalanan dimulai dari Pasifik utara, Samoa Barat, Kaledonia Baru dan berakhir di Australia.

Belasan ribu botol plastik di kapal Plastiki diikat ke ponton pengambang, lalu dilem dengan plastik dan lem daur ulang dari sekam kacang mete dan tebu. Layarnya pun memakai plastik daur ulang.

Untuk tenaga penggerak, motor kapal Plastiki memakai gabungan panel surya, listrik tenaga angin dan generator yang dikayuh ala sepeda. Para awak kapal memanfaatkan air minum dari urin yang didaur ulang.

(fay/nrl)

GRATIS kaos cantik dan voucher pulsa! ikuti sms berlangganannya, ktk REG DETIK kirim ke 3845 (Telkomsel, Indosat, Three)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Sydney – Suka cita menyambut kedatangan perahu layar Plastiki di Pelabuhan Sydney. Kapal unik yang dibuat dari 12.500 botol plastik ini sukses berlayar mengarungi Samudra Pasifik.

“Ini luar biasa. Senang rasanya bisa sampai ke Sydney,” kata David de Rothschild, putra bankir kaya asal Inggris yang menjadi sponsor Plastiki kepada AFP, Senin (26/7/2010).

Plastiki telah menempuh perjalanan 15.000 km atau sekitar 9.000 mil. Plastiki mengambil namanya dari ekspedisi rakit bersejarah dari Amerika Selatan ke Polinesia tahun 1947 yang dilakukan Thor Heyerdhal dari Norwegia. Ekspedisi itu bernama Kontiki.

Plastiki berlayar dengan awak enam orang. Perjalanan dimulai dari Pasifik utara, Samoa Barat, Kaledonia Baru dan berakhir di Australia.

Belasan ribu botol plastik di kapal Plastiki diikat ke ponton pengambang, lalu dilem dengan plastik dan lem daur ulang dari sekam kacang mete dan tebu. Layarnya pun memakai plastik daur ulang.

Untuk tenaga penggerak, motor kapal Plastiki memakai gabungan panel surya, listrik tenaga angin dan generator yang dikayuh ala sepeda. Para awak kapal memanfaatkan air minum dari urin yang didaur ulang.

(fay/nrl)

GRATIS kaos cantik dan voucher pulsa! ikuti sms berlangganannya, ktk REG DETIK kirim ke 3845 (Telkomsel, Indosat, Three)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!